Nasib koran Australia tinggal 12 tahun lagi
Posted on | August 25, 2010 | 3 Comments
Konsultan digital Ross Dawson mengatakan nasib koran Australia hanya tinggal 12 tahun. Dawson, yang besok (26/8) akan memberikan paparannya dalam forum Asosiasi Penerbit Koran di Sidney, Australia, bertutur demikian kemarin kepada The Australian.Dawson memperkirakan dalam jangka waktu 10 tahun, ponsel akan menjadi sarana utama untuk mengakses berita. Sebagai konsekuensinya, pembaca akan diuntungkan sebab biaya akses berita akan turun drastis.
Dalam waktu yang bersamaan, tambah dia, konsumen juga akan diuntungkan sebab dalam jangka waktu 10 tahun ke depan harga piranti pintar untuk menikmati situs-situs berita akan semakin murah.
“Kita bergerak menuju media ekonomi, yang didominasi oleh konten dan konektivitas sosial,” kata Dawson. “Pendapatan media akan melambung, tapi tidak merata.”
Dia mengatakan organisasi media yang telah mapan perlu memikirkan cara untuk bermanuver sehingga dapat berpartisipasi dalam pertumbuhan tersebut. Lebih dari itu, dia mensinyalkan agar media mulai mengatahui posisinya, terutama ketika berhadapan dengan perkembangan perluasan informasi.
Dawson, penulis buku tentang networking dan microblogging Living Networks menambahkan bahwa hanya jurnalis yang betul-betul terpercaya yang akan dilirik oleh pembaca.
“Banyak wartawan, utamanya yang ahli di bidangnya, masih akan diperkerjakan di Australia, tingkat reputasi mereka yang akan menuntun pembaca untuk sejauh mana mereka bisa percaya kepada wartawan tersebut.”
Menurut Wikipedia, ada dua koran nasional, 10 koran negara bagian, 37 harian regional, dan 470 harian lokal dan beberapa yang terbit di pinggiran kota. Selain The Australian yang adalah koran nasional, Australia memiliki beberapa koran terkemuka lain, seperti The Sydney Morning Herald, The Daily Telegraph, The Age, dan The Herald Sun.
Jika Australia masih memiliki 12 tahun lagi, berapa tahunkah yang masih dimiliki Indonesia?
Comments
3 Responses to “Nasib koran Australia tinggal 12 tahun lagi”
Leave a Reply











August 26th, 2010 @ 8:19 am
sebenarnya pertanyaan apakah koran akan mati, selalu diulang-ulang oleh Dahlan Iskan, saat masih menjadi bos Jawa Pos. Ia yakin, koran tetap akan dibutuhkan.
pertanyaan ini sama dengan mengajukan pertanyaan apakah radio masih ada atau tidak, seiring era online/new media yang ternyata memakan banyak korban ini.\
di kantor pusat radio saya, UK, dan juga cabang-cabang lain seperti Aussie dan Miami, sudah banyak dilakukan PHK, dengan alasan perpindahan format media dari radio menjadi online media mengakibatkan redudancy (orang-orang yang mesti dipinggirkan karena kapabilitasnya yang dahsyat dinilai tak dibutuhkan.
di Indonesia sendiri, saya segera mengalaminya. Januari tahun depan, akan berlaku peraturan baru, seiring media saya yang menjadi media online. Antara lain, gaji karyawan disesuaikan, which is bagi saya turun sekitar Rp 1 juta/bulan. Alasannya, “Dulu standar penggajian berdasarkan kapabilitas karyawan di bidang radio. Kalau sekarang jadi media online, semua harus mulai dari nol, dengan standar berbeda.”
Satu pertanyaan saya yang tak mampu dijawab dengan jernih, “Apakah dengan demikian berarti kemampuan jurnalis media online dianggap di bawah radio?”
Maka, sekarang, saya -yang menjadi korban new media ini- tinggal menikmati waktu sisa saya sampai akhir tahun dengan kontrak lawas. Jika awal tahun bertahan di media ini, saya harus rela gaji berkurang sangat signifikan. Hiiiks.. padahal saya sudah berargumen, “Kan saya sudah mengikuti kursus new media sampai ke Eropa, bahkan bukan atas biaya kantor…”
O… new media, new media, banyak nian korbanmu…
August 27th, 2010 @ 5:25 am
Jojo, ikut sedih mendengar nasibmu. Tapi, percayalah, jurnalis berkualitas tak akan pernah kesulitan mencari tempat berlabuh. Aku yakin masih banyak media yang bisa menggajimu dengan lebih layak. Dan, jangan lupa, masih ada pilihan menjadi Direktur KOJI! hehe…
August 30th, 2010 @ 5:27 am
jo, tetap semangat ya!
KOJI menunggu-mu.